Snippet

            Jumlah populasi kerbau pulau Jawa saat ini mencapai 363 ribu ekor atau 27,82 persen. Kerbau merupakan ternak yang sangat mudah dipelihara oleh para petani. Selain dapat digunakan sebagai penghasil daging, ternak kerbau ini dapat digunakan untuk mengolah lahan pertaniannya. Oleh sebab itu beternak kerbau sangat berpotensi untuk dikembangkan. Namun ketika melihat kondisi lingkungan peternakan ruminansia termasuk kerbau, masih banyak peternak-peternak terutama peternakan rakyat masih belum mampu mengolah limbah kotoran ternak. Limbah yang dihasilkan kerbau-kerbau ini masih belum banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Hanya saja apabila musim kemarau limbah ini digunakan untuk memupuk lahan pertanian, sedangkan saat musim hujan limbah ini dibiarkan dan mengotori lingkungan.
         Upaya pencanangan pertanian organik salah satunya adalah dengan memanfaatkan peran cacing sebagai dekomposer yang mampu menghasilkan pupuk organik terbaik untuk tanah. Cacing mampu tumbuh pada media-media organik termasuk kotoran ternak. Casting merupakan kotoran cacing yang dapat berguna untuk pupuk. Casting ini mengandung partikel-partikel kecil dari bahan organik yang dimakan cacing kemudian dikeluarkan lagi. Pupuk casting adalah pupuk yang diambil dari media tempat hidup cacing. Media tempat hidup cacing bermacam macam diantaranya sampah organik, serbuk gergaji, kotoran ternak, jerami dan lain-lain.
       Selain dapat mengurangi pencemaran lingkungan, dengan adanya kascing ini dapat menambah pendapatan peternak dari penjualan hasil budidaya cacing dan juga kascing ini dapat digunakan sebagai pupuk organik. Dalam penerapannya budidaya cacing ini tidak membutuhkan teknologi yang rumit, sehingga kemungkinan besar masyarakat akan mudah dalam pelaksanaanya.
        Oleh karena itu, solusi tepat untuk mengatasi permasalahan disekitar peternakan adalah dengan mengintegrasikan antara kerbau dan cacing.



                  


       Cara Budidaya : 
       - Kerbau 
         Pemeliharaan kerbau sangat mudah dibanding dengan pemeliharaan sapi. Pakan yang  diberikan dikandang umumnya jerami padi. Salah satu keunggulan kerbau adalah mampu memanfaatkan pakan dengan kualitas rendah. Hal ini memberikan manfaat serta pengurangan biaya produksi pemeliharaan kerbau. Cara berternak kerbau dapat diawali dengan pemilihan bibit kerbau yang unggul, pemberian pakan jerami padi dan diimbangi dengan hijauan segar, pengaturan manajemen yang baik, dan pengaturan reproduksi secara benar. 

       - Cacing
       Sama halnya seperti ternak-ternak lainnya. Limbah kerbau seperti feses dapat digunakan untuk media budidaya cacing (Lumbricus rubellus). Sudah sejak dahulu cacing dikenal sebagai hewan yang berperan untuk menyuburkan tanah karena kemampuannya mengurai bahan organik. Kotoran sapi maupun kerbau mampu dijadikan sebagai media tumbuh cacing dan dalam prosesnya akan diuraikan oleh cacing sehingga terbentuk kascing yang bernutrisi tinggi untuk tanah jika dibandingkan dengan kotoran ternak yang langsung diberikan ke tanah.
Berikut cara pemeliharaan cacing :
-          Penyediaan media tumbuh tumbuh cacing dengan ketinggian media awal yaitu 6 cm.
-          Penyebaran bibit cacing pada kotak pemeliharaan yang berisi media.
-          Pemberian pakan 3 hari sekali berupa limbah organik
-       Pemeriksaan kelembaban media. Jika media terlalu kering cacing akan mati dan jika terlalu basah cacing akan naik kepermukaan.
-          Pemeriksa dan pemberantasan hama (semut, kutu) dan predator (ayam, tikus)
-          Pemanenan  setelah 4 bulan pemeliharaan (pemisahan cacing dari media, penyeleksian cacing, dan penimbangan)
-          Penampungan kascing dalam wadah dan siap dipakai untuk pupuk.
-          Penggantian media tumbuh setiap 6 bulan sekali



            SALAM INTEGRASI :)






Assalamu'alaikum wr.wb
Salam sejahtera untuk kita semua..
dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kita telah diberikan ketetapan iman, kesehatan, dan umur hingga saat ini.
bersama ini, kami menyajikan blog kami yang membahas mengenai budidaya cacing dan kerbau dengan latar belakang melihat kondisi peternakan di Desa Ploso, Blitar.
kami memohon kritik dan saran dari para rekan-rekan demi kebaikan kita bersama dan semoga blog kami bermanfaat . terimakasih dan selamat menikmati
Wassalamu'alaikum wr.wb

Penyusun


1.       Siklus hidup cacing tanah dimulai dari kokon, cacing muda (juvenil), cacing produktif dan cacing tua.Kokon yang dihasilkan dari cacing tanah akan menetas setelah berumur 14 - 21 hari. Setelah menetas, cacing tanah muda ini akan hidup dan dapat mencapai dewasa kelamin dalam waktu 2,5 - 3 bulan. Saat dewasa kelamin cacing tanah akan menghasilkan kokon dari perkawinannya yang berlangsung selama 6 - 10 hari dan masa produktifnya berlangsung selama 4-10 bulan.

2.       Penyusun tubuh cacing terdiri atas air berkisar 75-90 % dari berat tubuhnya. kelembaban tanah yang terlalu tinggi atau terlalu basah dapat menyebabkan cacing tanah berwarna pucat dan kemudian mati. Sebaliknya bila kelembaban tanah terlalu kering, cacing tanah akan segera masuk ke dalam tanah dan berhenti makan serta akhirnya mati.

3.       Tempat kesukaan cacing tanah yaitu di tanah dengan pH sekitar 5,8-7,2 karena dengan kondisi ini bakteri dalam tubuh cacing tanah dapat bekerja optimal untuk mengadakan pembusukan.

4.       Cacing tanah lebih menyukai serasah herba dan kurang menyukai serasah pohon gugur, daun yang berbentuk jarum, daun yang mengandung tanin.


5.       Cacing tanah menangkal kebanjiran, cacing meiliki daya serap tanah dalam menyerap air pada waktu hujan karena cacing tanah memiliki kemampuan membuat liang-liang dalam tanah. Oleh sebab itu persediaan air dalam tanah akan lebih teratur, sehingga menjamin pertumbuhan tanaman.

6, Cacing termasuk hewan hermaprodite atau hewan yang memiliki 2 alat kelamin dalam satu tubuhnya. Telur dari betina yang sudah dewasa akan dibuahi oleh kelamin jantan sehingga telur menjadi matang




Cacing tanah mempengaruhi siklus dan perubahan dari hara di dalam tanah melalui peranannya pada sifat biologi, kimia dan fisik tanah.  Besar pengaruh dari cacing dipengaruhi oleh kelompok secara ekologi dan ukurancacing, tumbuhan, bahan induk tanah, iklim, waktu, dan sejarah penggunaan (Zhang et al. 2007). Pada ekosistem padang penggembalaan, kehadiran sejumlah cacing tanah menjadi indikator dari kesuburan tanah.
Berikut manfaat cacing :

  • Memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan hara dalam tanah
  • Meningkatkan dan menstabilkan suplai hara tanah. Cacing dapat mengubah sifat fisik dan kimia tanah, memperlancar proses mineralisasi bahan organik, dan menstabilkan siklus hara.
  • Hara yang dilepaskan ke dalam tanah melalui aktifitas metabolisme cacing tanah. Tubuh cacing juga merupakan sumber hara yang potensial.  Tubuh cacing dapat terdekomposisi secara sempurna hanya dalam 4 hari saja setelah cacing itu mati dan 70% N yang berasal dari tubuh cacing akan diserap tanaman setelah 16 hari.  Cacing tanah juga melepaskan hara ke dalam tanah dari  aktifitas metabolismnya.
  • Peranan cacing tanah terhadap peningkatan serapan hara oleh tanaman.
    Cacing tanah ternyata memiliki banyak manfaat. Banyak orang yang mengkonsumsinya untuk beberapa penyakit tanpa efek samping sehingga aman di konsumsi. Menurut beberapa penelitian, menyatakan bahwa cacing tanah memiliki sumber protein yang tinggi dan kandungan asam amino yang cukup tinggi.
            Salah satunya yaitu cacing Lumbricus rubellus yang mengandung protein rata-rata sekitar 76%. Selain itu, para peneliti juga membuktikan bahwa cacing tanah memiliki zat antibakteri yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri gram negatif E.coli , Shigella dysenterica, Staphylococcus aureus dan Salmonella thypi yang berguna untuk mempengaruhi organ penting tubuh manusia. Adapun beberapa manfaat cacing tanah untuk kesehatan manusia adalah sebagai berikut :
  • Sebagai pengobaran tradisional seperti typus.
  • Menurunkan kadar kolesterol
  • Meningkatkan daya tahan tubuh (Sistem imun)
  •  Menurunkan hipertensi
  • Meningkatkan nafsu makan
  • Mengobati infeksi saluran pencernaan yang disebabkan oleh typus, disentri, diara atau gangguan perut lainnya seperi maag.
  •  Mengobati infeksi saluran pernafasan seperti batuk, asma, influenza, bronchitis dan TBC.
  •  Menurunkan kadar gula diabetes


            Penggunaan cacing tanah sebagai obat adalah terbuat dari strain cacing tanah yang telah melalui teknologi rekayasa biokimia. Yang mana cacing tanah memiliki enzim-enzim penting di dalamnya seperti fibrinolysin, profibrinolysin aktivator, dan kolagenase. Biasanya cacing tanah yang telah di ekstrak, di kemas dalam bentuk kapsul. Sehingga hal ini tidak memiliki efek samping bagi kesehatan serta dapat digunakan dalam jangka panjang. 


Mengapa harus pertanian organik ? Pertanian modern menyebabkan beberapa masalah meliputi  :
  •  Pupuk kimia dan herbisida lebih mudah mencucui tanah dan mencemari sungai, danau, dan sumber air.
  • Penggunaan jangka panjang pada pupuk kimia menyebabkan bahan organik tanah lebih mudah terbawa angin dan air.
  • Semakin lama penggunaan pupuk kimia, dosis yang digunkan akan semakin meningkat dalam satuan lahan yang tetap sama.
  • Pestisida buatan akan tetap tinggal di tanah bahkan akan masuk kedalam rantai makanan yang ketika dikonsumsi manusia dan hewan menyebabkan permasalahan tubuh.
  • Penggunaan bahan kimia mengganggu mikroorganisme tanah sehingga tanah miskin akan unsur hara, aerasi, dan ketersediaan nutrisi tanah berkurang.
  • Hama dan penyakit menjadi lebih sulit dikontrol karena mereka menjadi lebih resisten terhadap pestisida buatan
  • Pemanfaatan pengusir hama alami berkurang karena adanya pestisida beracun.
Oleh sebab itu pertanian organik harus diterapkan dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut. Bahaya akan resistensi hama dan juga perusakan lahan juga dapat merusak kesehatan manusia yang mengkonsumsi berbagai produk pertanian. Salah satu solusi yang dapat diambil adalah tentang penggunaan pupuk organik. Kascing merupakan salah satu jenis pupuk organik yang dapat digunakan untuk memupuk lahan pertanian. 


       

 Pertanian organik sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu di seluruh dunia dalam berbagai bentuk yaitu pertanian organik yang tidak menggunakan bahan kimia sintetik. Dimana pertanian ini, memanfaatkan ekologi hutan sebagai kebun hutan atau perladangan dalam sistem produksi pangan pada masa prasejarah yang merupakan pemanfaatan ekosistem pertanian pertama.
Tahun 1920, pakar biologi tanah mulai mengembangkan teori biodinamika biologi tentang ilmu biologi yang dapat digunakan untuk menanggulangi dampak negatif bahan kimia tanpa mengurangi hasil produksi pertanian dan teori ini merupakan versi awal pertanian organik.
       Tahun 1930, pakar botani Sir Albert Howard dan istrinya mengembangkan pertanian organik berdasarkan latar belakang pendidikan, pengetahuan tentang biodinamika dan pengalaman mereka mengenai metode pertanian tradisonal.
         Di negara berkembang, produsen pertanian masih menggunakan prinsip tradisional setara pertanian organik namun tidak bersetifikat dan mengikuti perkembangan ilmiah pertanian organik. Sehingga petani tradisional dapat berpindah dengan mudah ke pertanian organik karena alasan ekonomi.